Friday, August 12, 2005

Penjaja Kue itu pun akhirnya Berhaji

"Jajaaannnn... Jajaaaannnnnn...." Entah berapa tahun sudah suara pedagang ini 'berkumandang', berkeliling setiap hari di perkampungan kami. Khas sekali suaranya. Perempuan itu dikenal masyarakat sebagai penjual jajan keliling. Satu keranjang kecil, ditaruh di atas kepalanya, piawai sekali. Mengenakan pakaian khas Jawa sederhana dengan kepala dililit kerudung, tiada sore terlewatkan tanpa kehadiran suara pedagang ini. Hujan pun bukan penghalang baginya. Pisang goreng misalnya, salah satu jajanan yang ditawarkan, menjadi favorit kami.

Mbak Tin tinggal di gubug reyot di pojokan kampung kami. Saya yakin, kalaupun pemerintah kota mengetahuinya di pinggir jalan, gubug ini jadi salah satu prioritas penggusuran karena 'mengganggu' pemandangan. Mbak Tin tinggal bersama seorang anak laki-lakinya. Adalah di luar pengetahuan saya tentang kapan dia ditinggal pergi oleh sang suami. Sejak tinggal di gubug tersebut, hanya mereka berdua yang kelihatan.

Mbak Tin terkenal ramah. Tak pernah ia melupakan salam dan hamdalah dalam keseharian bisnis kecilnya. Orang-orang senang sekali kepadanya. Sebenarnya, bukan karena keramahan dan kesupelannya saja yang mendorong orang-orang di kampung kami untuk membeli dagangannya. Kelebihan lain yang dimiliki ibu satu anak ini adalah keterampilan mengajari Al-Qur'an. Makanya orang-orang di kampung mempercayakan anak-anak mereka untuk diajar membaca Al-Qur'an oleh Mbak Tin. Buahnya, perubahan moral kerohanian anak-anak yang dihasilkan dari sumbangsih perempuan penjual jajan ini ternyata membawa dampak besar pada kehidupan masyarakat.

Mbak Tin sering sekali bercerita bahwa dia sangat memimpikan untuk pergi ke Baitullah. Bahkan saking rindunya, seringkali dia tampak menangis saat melihat gambar masjidil Haram. Sampai suatu saat dia kumpulkan tabungannya sebesar 10 juta rupiah. "Mbak Tin tidak usah memikirkan berapa sisa yang dibutuhkan untuk berhaji. Saya ikhlas!" Kata Pak Ahmad suatu hari ketika Mbak Tin menanyakan jumlah uang yang dibutuhkan untuk pergi ke tanah suci. Mbak Tin sadar, bahwa uang yang diserahkan Pak Ahmad, jauh dari cukup.

Betapa bersyukurnya Mbak Tin mendengar berita ini. Mungkin ia berpikir, mana mungkin seorang penjual jajan pasar mampu membiayai perjalanan ke Masjidil Haram. Seumur hidup pun kalau dia mau menabung, di jaman sekarang ini, tidak bakal tertutupi biayanya. Apalagi kebutuhan terhadap kondisi rumahnya juga membutuhkan penanganan segera. Namun di tengah segala kesulitan yang dialaminya, rupanya Allah SWT memberikan kemudahan. Tidak ada orang yang akan pernah menyangka bahwa Mbak Tin bakal berkunjung ke Mekkah

Hari itu, tanggal 1 Februari 2005, penjaja kue sekaligus guru mengaji di kampung kami berkemas-kemas menuju asrama haji. Puluhan orang, termasuk bekas anak-anak didiknya, memadati rumahnya. Sebagian besar mereka meneteskan air mata, terharu mengingat besarnya jasa perempuan penjaja pisang goreng itu selama ini. Mengingat betapa Allah Maha Bijaksana, memberangkatkan kaum papa seperti dia. Bertahun-tahun sudah dia baktikan hidupnya untuk sebuah kepentingan yang jarang dilirik orang sebagai suatu prestasi. Apalagi sebuah karir!

Hari itu, Allah SWT telah melengkapi kebahagianya. Namun Allah juga ingin mengambilnya untuk selama-lamanya. Pada tanggal 30 Februari 2005, Mbak Atin, 45 tahun, dinyatakan sebagai syuhada yang wafat di Mina.

-------------------------------------------------------------
(Diambil dari www.eramuslim.com)